Ketika Pernikahan Terlihat Baik-Baik Saja, Tapi Mental Tidak

Source : Lifestylememory on Freepik.com


 Di media sosial, kita sering melihat potongan kehidupan pernikahan yang tampak harmonis. Senyum, kebersamaan, dan keluarga yang terlihat utuh. Namun kenyataannya, apa yang terlihat belum tentu mencerminkan kondisi mental di dalamnya.

Beberapa waktu terakhir, publik diingatkan bahwa pernikahan bukan hanya tentang citra, tetapi tentang kesehatan emosional dua orang di dalamnya.

- Pernikahan Bisa Menjadi Penopang Mental

Dalam kondisi ideal, pernikahan memberi:

  • rasa aman

  • dukungan emosional

  • tempat pulang setelah hari yang melelahkan

Pasangan yang saling mendengar dan memahami dapat membantu menurunkan stres dan kecemasan.

- Namun, Pernikahan Juga Bisa Menjadi Tekanan

Masalah muncul ketika:

  • emosi tidak pernah dibicarakan

  • konflik disimpan terlalu lama

  • beban peran tidak seimbang

  • ada tuntutan untuk selalu “terlihat bahagia”

Tekanan ini sering tidak terlihat, bahkan oleh orang terdekat.

- Ketika Masalah Mental Tidak Dikelola

Kesehatan mental yang diabaikan dapat berdampak pada:

  • cara berkomunikasi

  • cara mengambil keputusan

  • cara mencari pelarian yang salah

Bukan karena kurang cinta, tetapi karena lelah secara emosional.

- Pernikahan Bukan Tentang Tampilan

Pernikahan bukan panggung sosial.
Ia adalah ruang aman untuk jujur, rapuh, dan bertumbuh bersama.

Menjaga pernikahan berarti juga:

  • berani membicarakan luka

  • meminta bantuan saat lelah

  • tidak memaksakan kebahagiaan semu

Karena pernikahan yang sehat dimulai dari mental yang dirawat, bukan citra yang dipoles.

Membagi tugas rumah tangga: Bagaimana membuatnya adil?

 Dalam kehidupan rumah tangga, tugas domestik sering kali menjadi salah satu sumber ketidakseimbangan dan bahkan konflik. Namun, dengan komunikasi yang baik dan strategi yang tepat, pembagian tugas rumah tangga bisa dilakukan secara adil sehingga tidak ada pihak yang merasa terbebani. Lalu, bagaimana cara membagi tugas rumah tangga dengan adil? Berikut beberapa tipsnya.

1. Diskusikan Harapan dan Kebutuhan Bersama

Setiap pasangan memiliki pola pikir dan ekspektasi yang berbeda tentang pekerjaan rumah. Oleh karena itu, penting untuk berdiskusi dan memahami apa yang diharapkan satu sama lain. Dengan begitu, kalian bisa menciptakan sistem yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.

2. Buat Daftar Pekerjaan Rumah

Langkah berikutnya adalah membuat daftar tugas rumah tangga secara rinci, mulai dari membersihkan rumah, mencuci baju, memasak, hingga mengurus anak. Dengan daftar ini, kalian bisa melihat secara jelas beban pekerjaan yang ada dan bagaimana membaginya secara seimbang.

3. Berdasarkan Kemampuan dan Preferensi

Setiap orang memiliki keahlian dan preferensi masing-masing. Jika salah satu lebih suka memasak, maka dia bisa lebih banyak menangani dapur, sementara yang lain mungkin lebih suka mencuci atau mengurus anak. Pembagian tugas berdasarkan kemampuan akan membuat pekerjaan lebih menyenangkan.

4. Gunakan Sistem Rotasi

Jika ada tugas yang tidak disukai oleh kedua pasangan, cobalah sistem rotasi. Misalnya, minggu ini satu orang bertugas mencuci piring, sementara yang lain menyapu dan mengepel. Minggu berikutnya tugas bisa ditukar agar lebih adil.

5. Terapkan Aturan “Sama-sama Bertanggung Jawab”

Tugas rumah tangga bukan hanya sekadar membagi pekerjaan, tetapi juga soal tanggung jawab bersama. Artinya, jika ada sesuatu yang perlu dikerjakan, tidak harus menunggu salah satu pasangan menyuruh. Inisiatif dalam melakukan pekerjaan rumah adalah kunci untuk membangun kebiasaan berbagi tanggung jawab.

6. Jadwal yang Fleksibel dan Adaptif

Setiap rumah tangga memiliki dinamika yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pembagian tugas harus fleksibel dan bisa disesuaikan. Misalnya, jika salah satu pasangan sedang sibuk dengan pekerjaan kantor, maka yang lain bisa mengambil alih beberapa tugas sementara.

7. Libatkan Anak dalam Pekerjaan Rumah

Jika sudah memiliki anak, ajak mereka untuk ikut serta dalam tugas rumah tangga sesuai dengan usia mereka. Selain meringankan beban orang tua, ini juga mengajarkan tanggung jawab dan kemandirian sejak dini.

8. Gunakan Teknologi dan Bantuan Jika Diperlukan

Memanfaatkan teknologi seperti mesin cuci, vacuum cleaner otomatis, atau layanan kebersihan bisa membantu mengurangi beban pekerjaan rumah tangga. Jika memungkinkan, menyewa asisten rumah tangga juga bisa menjadi solusi untuk mengurangi beban pekerjaan domestik.

9. Berikan Apresiasi Satu Sama Lain

Menghargai usaha pasangan dalam mengerjakan tugas rumah tangga sangat penting. Jangan ragu untuk memberikan pujian atau sekadar ucapan terima kasih agar pasangan merasa dihargai dan semakin termotivasi.

10. Evaluasi dan Sesuaikan Secara Berkala

Seiring berjalannya waktu, kondisi dan kebutuhan rumah tangga bisa berubah. Oleh karena itu, lakukan evaluasi berkala tentang sistem pembagian tugas yang telah diterapkan. Jika ada yang perlu disesuaikan, diskusikan bersama agar tetap adil dan tidak memberatkan salah satu pihak.

Membagi tugas rumah tangga dengan adil bukan hanya soal keadilan dalam pekerjaan, tetapi juga tentang membangun hubungan yang harmonis dan saling mendukung. Dengan komunikasi yang baik, pembagian tugas yang seimbang, dan sikap saling menghargai, rumah tangga akan menjadi tempat yang lebih nyaman dan bahagia bagi semua anggota keluarga. 😊

Hobi Bersama yang Bisa Mempererat Hubungan

 Menjalin hubungan yang harmonis memerlukan usaha dari kedua belah pihak. Salah satu cara terbaik untuk mempererat ikatan dengan pasangan adalah melalui hobi bersama. Selain menambah kedekatan emosional, hobi bersama juga menciptakan momen-momen menyenangkan yang bisa dinikmati berdua. Berikut beberapa ide hobi yang bisa dicoba untuk meningkatkan keharmonisan dalam hubungan:

1. Memasak atau Baking Bersama

Memasak bukan hanya sekadar kebutuhan, tetapi bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan jika dilakukan bersama pasangan. Mencoba resep baru, membuat makanan favorit masing-masing, atau bahkan mengikuti kelas memasak bisa menjadi pengalaman seru yang mempererat hubungan.

2. Olahraga Berdua

Menjaga kesehatan bersama dapat menjadi cara efektif untuk mempererat hubungan. Bisa dengan jogging di pagi hari, bersepeda, yoga pasangan, atau bahkan mencoba olahraga baru seperti tenis atau badminton. Selain menyenangkan, olahraga bersama juga membantu meningkatkan komunikasi dan kerja sama.

3. Travelling dan Menjelajah Tempat Baru

Menjelajahi tempat-tempat baru memberikan pengalaman unik yang dapat mempererat hubungan. Tidak harus selalu bepergian jauh, bisa juga dengan mengeksplorasi tempat wisata lokal, mencoba kuliner baru, atau melakukan road trip bersama.

4. Menonton Film atau Serial Bersama

Menjadikan film atau serial sebagai hobi bersama bisa menambah banyak topik pembicaraan dalam hubungan. Bisa dengan menonton di bioskop atau membuat suasana home theater yang nyaman di rumah.

5. Berkebun

Jika ingin mencari kegiatan yang lebih santai, berkebun bisa menjadi pilihan yang baik. Menanam bunga, merawat tanaman hias, atau bahkan menanam sayuran di halaman rumah bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan sekaligus bermanfaat.

6. Fotografi atau Videografi

Mengabadikan momen bersama melalui foto atau video dapat menjadi cara yang menarik untuk mempererat hubungan. Bisa dengan berburu spot foto yang unik atau bahkan membuat vlog perjalanan bersama.

7. Bermain Game Berdua

Bagi yang suka bermain game, mencoba game multiplayer bisa menjadi cara seru untuk meningkatkan kekompakan. Tidak hanya game digital, tetapi juga permainan papan seperti catur, scrabble, atau kartu bisa menjadi pilihan menyenangkan.

8. Mendengarkan Musik dan Karaoke

Musik memiliki cara unik untuk menyatukan perasaan. Membuat playlist lagu favorit bersama, mendengarkan konser dari musisi favorit, atau sekadar karaoke di rumah bisa menjadi momen menyenangkan yang meningkatkan ikatan emosional.

9. Belajar Hal Baru Bersama

Mempelajari sesuatu yang baru dapat menjadi pengalaman berharga dalam hubungan. Bisa dengan belajar bahasa asing, mengikuti kelas seni, atau bahkan mencoba kursus menari bersama.

10. Menulis atau Membuat Konten Bersama

Bagi pasangan yang suka berbagi cerita, menulis blog, membuat podcast, atau bahkan konten video untuk media sosial bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus produktif.

Hobi bersama tidak hanya memberikan kesenangan, tetapi juga membantu membangun komunikasi yang lebih baik dalam hubungan. Dengan melakukan aktivitas yang disukai bersama, hubungan menjadi lebih kuat dan penuh kenangan indah. Jadi, hobi mana yang ingin kamu coba bersama pasangan? 😊

Bagaimana menyiapkan mental untuk menjadi orang tua

 Menjadi orang tua adalah perjalanan hidup yang luar biasa, penuh kebahagiaan, tantangan, dan tanggung jawab besar. Namun, tidak semua orang merasa siap secara mental untuk menghadapi perubahan besar ini. Menyiapkan mental sebelum menjadi orang tua sangat penting agar kita bisa menghadapi berbagai situasi dengan lebih tenang dan percaya diri.

1. Pahami Bahwa Tidak Ada Orang Tua yang Sempurna

Tidak ada panduan yang bisa membuat seseorang menjadi orang tua yang sempurna. Semua orang tua pasti pernah melakukan kesalahan, dan itu adalah bagian dari proses belajar. Yang terpenting adalah selalu berusaha menjadi lebih baik dan memberikan yang terbaik untuk anak.

2. Bangun Kesabaran dan Fleksibilitas

Anak-anak memiliki dunia mereka sendiri yang penuh rasa ingin tahu, energi, dan emosi yang belum stabil. Menjadi orang tua berarti harus memiliki kesabaran ekstra untuk menghadapi tangisan, pertanyaan tanpa henti, serta situasi yang tidak terduga. Belajar untuk lebih fleksibel dalam menghadapi perubahan dan tantangan adalah kunci utama.

3. Persiapkan Diri untuk Kurang Tidur dan Rutinitas Baru

Salah satu tantangan terbesar bagi orang tua baru adalah perubahan dalam pola tidur dan rutinitas harian. Bayi sering terbangun di malam hari, dan kebutuhan mereka harus selalu diutamakan. Oleh karena itu, penting untuk mulai menyesuaikan pola tidur dan belajar mengelola energi agar tetap bisa berfungsi dengan baik sepanjang hari.

4. Perkuat Hubungan dengan Pasangan

Menjadi orang tua adalah perjalanan bersama, bukan hanya tanggung jawab satu orang. Komunikasi yang baik dengan pasangan sangat penting untuk berbagi tanggung jawab dan mendukung satu sama lain. Diskusikan harapan, pembagian tugas, dan bagaimana menghadapi tantangan sebagai tim.

5. Siapkan Mental untuk Menghadapi Tekanan Sosial

Orang tua sering kali mendapatkan banyak masukan, kritik, atau bahkan tekanan dari keluarga, teman, dan masyarakat tentang bagaimana seharusnya mengasuh anak. Penting untuk tetap tenang, memilah mana nasihat yang bermanfaat, dan percaya pada keputusan sendiri sebagai orang tua.

6. Pelajari Dasar-Dasar Pengasuhan Anak

Mempersiapkan mental juga berarti membekali diri dengan pengetahuan tentang cara merawat dan membesarkan anak. Membaca buku, mengikuti seminar parenting, atau berdiskusi dengan orang tua lain bisa membantu memahami lebih baik kebutuhan anak di setiap tahap perkembangannya.

7. Bangun Kesehatan Mental yang Kuat

Menjadi orang tua bisa melelahkan secara fisik dan emosional. Oleh karena itu, penting untuk tetap menjaga kesehatan mental dengan mencari waktu untuk diri sendiri, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau bahkan mencari bantuan profesional jika merasa kewalahan.

8. Bersiap untuk Menjadi Teladan

Anak-anak belajar dari orang tua mereka, bukan hanya dari kata-kata tetapi juga dari tindakan. Oleh karena itu, penting untuk menjadi contoh yang baik dalam hal kesabaran, empati, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab.

9. Nikmati Perjalanan Ini

Meskipun ada banyak tantangan, menjadi orang tua adalah pengalaman yang luar biasa dan penuh cinta. Nikmati setiap momen, hargai setiap perkembangan anak, dan jangan lupa untuk tertawa bersama. Kebahagiaan orang tua akan menjadi kebahagiaan bagi anak-anak mereka.

Menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah, tetapi dengan persiapan mental yang baik, perjalanan ini bisa menjadi lebih menyenangkan dan bermakna. Dengan memahami bahwa tidak ada orang tua yang sempurna, bersabar, terus belajar, dan menikmati setiap momen, kamu bisa menjadi orang tua yang hebat bagi anak-anakmu. 😊

Bagaimana Mendekatkan Hubungan dengan Mertua di Awal Pernikahan

 Menikah bukan hanya soal membangun kehidupan bersama pasangan, tapi juga menjalin hubungan baik dengan keluarga barunya, terutama mertua. Awal pernikahan sering kali menjadi masa penyesuaian yang cukup menantang, termasuk dalam membangun kedekatan dengan mertua. Nah, bagaimana caranya agar hubungan ini bisa harmonis dan penuh kehangatan? Yuk, kita bahas!

1. Bersikap Terbuka dan Ramah

Jangan ragu untuk membuka diri dan menunjukkan sikap ramah kepada mertua. Bersikap sopan, menyapa lebih dulu, dan berusaha terlibat dalam obrolan bisa membuat mereka merasa dihargai dan diperhatikan.

2. Luangkan Waktu untuk Berinteraksi

Seperti halnya membangun hubungan dengan siapa pun, kedekatan dengan mertua butuh waktu dan perhatian. Sempatkan untuk mengunjungi mereka, mengobrol santai, atau sekadar menelepon untuk menanyakan kabar.

3. Tunjukkan Rasa Hormat dan Kepedulian

Mertua tentu ingin merasa dihormati dan dihargai oleh menantu mereka. Cara sederhana seperti meminta pendapat mereka tentang hal-hal kecil atau membantu mereka dalam aktivitas tertentu bisa mempererat hubungan.

4. Hindari Perbandingan

Jangan membandingkan mertua dengan orang tua sendiri atau bahkan dengan mertua teman lainnya. Setiap keluarga memiliki budaya dan kebiasaan yang berbeda. Belajar untuk menerima dan menyesuaikan diri adalah kunci dari hubungan yang harmonis.

5. Cari Kesamaan dan Minat Bersama

Menemukan kesamaan hobi atau minat dengan mertua bisa menjadi cara ampuh untuk mendekatkan diri. Entah itu memasak, berkebun, menonton film, atau hobi lainnya, aktivitas bersama bisa mempererat hubungan secara alami.

6. Jangan Ragu untuk Membantu

Jika ada kesempatan untuk membantu mertua, baik dalam urusan rumah tangga atau hal lainnya, lakukan dengan tulus. Sikap ini akan membuat mereka merasa lebih nyaman dan melihat ketulusan kita dalam membangun hubungan.

7. Bangun Hubungan yang Seimbang

Meskipun penting untuk dekat dengan mertua, tetaplah jaga keseimbangan agar tidak merasa tertekan atau kehilangan batasan pribadi. Komunikasikan dengan pasangan jika ada hal yang perlu disesuaikan agar hubungan tetap nyaman.

Kesimpulan

Membangun hubungan baik dengan mertua di awal pernikahan memang memerlukan usaha dan kesabaran, tetapi hasilnya akan sangat berharga. Dengan sikap terbuka, perhatian, dan komunikasi yang baik, hubungan dengan mertua bisa menjadi hangat dan harmonis. Ingat, mereka adalah bagian dari keluarga baru kita, jadi nikmati prosesnya dan jadikan hubungan ini sebagai sesuatu yang positif! 😊

Cara Menyesuaikan Diri dengan Kebiasaan Pasangan Setelah Menikah

 Menikah itu bukan cuma soal cinta, tapi juga tentang bagaimana kita bisa beradaptasi dengan kebiasaan pasangan. Kadang, hal-hal kecil yang dulu nggak terlalu diperhatikan, setelah menikah bisa jadi sumber kejutan—bahkan tantangan! Nah, gimana sih cara menyesuaikan diri dengan kebiasaan pasangan tanpa drama? Yuk, kita bahas!

1. Pahami Bahwa Setiap Orang Unik

Setiap orang punya kebiasaan yang terbentuk dari lingkungan dan pengalaman hidupnya. Mungkin pasanganmu terbiasa tidur dengan lampu menyala, sementara kamu lebih suka gelap total. Atau, dia suka bangun pagi sementara kamu tipe night owl. Memahami bahwa perbedaan ini wajar adalah langkah pertama untuk beradaptasi.

2. Komunikasikan dengan Jujur

Kalau ada kebiasaan pasangan yang terasa mengganggu, bicarakan dengan cara yang baik. Jangan langsung mengkritik atau mengeluh, tapi coba diskusikan bagaimana kalian bisa mencari jalan tengah. Misalnya, kalau pasangan suka menonton TV sebelum tidur sementara kamu butuh ketenangan, bisa cari solusi seperti menggunakan earphone atau menentukan batas waktu menonton.

3. Jangan Terlalu Banyak Menuntut

Menyesuaikan diri itu butuh waktu. Jangan berharap pasangan langsung berubah hanya karena kamu tidak suka kebiasaannya. Begitu juga sebaliknya, kamu pun harus siap beradaptasi. Daripada menuntut perubahan, coba fokus pada kompromi yang membuat kalian berdua nyaman.

4. Buat Aturan Bersama

Jika ada kebiasaan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, seperti cara mengatur keuangan atau membagi tugas rumah tangga, buat aturan bersama. Dengan begitu, kalian punya kesepakatan yang jelas dan bisa saling menghormati.

5. Belajar untuk Saling Menghargai

Kunci utama dari adaptasi setelah menikah adalah saling menghargai. Kalau pasangan punya kebiasaan yang berbeda, coba lihat dari sudut pandangnya. Mungkin ada alasan di balik kebiasaannya yang bisa kamu pahami. Dengan sikap yang lebih terbuka, proses menyesuaikan diri akan terasa lebih mudah.

6. Ambil Sisi Positif dari Perbedaan

Perbedaan kebiasaan bukan selalu sesuatu yang negatif. Kadang, justru bisa membawa hal baik dalam kehidupan pernikahan. Misalnya, kalau pasangan lebih rapi sementara kamu cenderung berantakan, kamu bisa belajar untuk lebih teratur. Atau kalau pasangan lebih santai sementara kamu perfeksionis, kamu bisa belajar untuk lebih rileks.

7. Bersabar dan Nikmati Prosesnya

Menyesuaikan diri dengan pasangan bukan hal yang instan. Kadang butuh waktu, kadang butuh kompromi. Tapi yang jelas, selama kalian punya niat baik untuk saling memahami, semuanya akan terasa lebih mudah dan menyenangkan.

Kesimpulan

Menyesuaikan diri dengan kebiasaan pasangan setelah menikah adalah bagian dari perjalanan pernikahan itu sendiri. Dengan komunikasi yang baik, sikap saling menghargai, dan kesabaran, kalian bisa menemukan ritme yang nyaman untuk berdua. Jadi, jangan stres kalau ada perbedaan, nikmati saja prosesnya! πŸ˜‰

Menyeimbangkan Karir dan Kehidupan Rumah Tangga Setelah Menikah

 Menikah itu seru, tapi juga penuh tantangan. Salah satunya? Menyeimbangkan karir dan kehidupan rumah tangga. Kalau dulu sebelum menikah kita bisa fokus ke pekerjaan tanpa banyak distraksi, setelah menikah, ada tanggung jawab lain yang harus diperhatikan. Nah, gimana sih caranya biar tetap produktif di kerjaan tanpa mengabaikan pasangan dan urusan rumah? Yuk, kita bahas!

1. Pahami dan Bagi Peran dengan Jelas

Setelah menikah, penting untuk mendiskusikan peran masing-masing dalam rumah tangga. Ini bukan soal siapa yang lebih banyak bekerja, tapi bagaimana semua tanggung jawab bisa dijalankan tanpa salah satu pihak merasa terbebani. Misalnya, kalau suami kerja di kantor seharian, mungkin istri bisa menangani urusan rumah tangga lebih banyak, atau sebaliknya. Tapi, kalau dua-duanya bekerja, berarti harus ada kesepakatan soal pembagian tugas.

2. Komunikasi yang Terbuka

Salah satu kunci keseimbangan antara karir dan kehidupan rumah tangga adalah komunikasi. Jangan hanya bicara soal pekerjaan, tapi juga bahas harapan, kebutuhan, dan kendala yang dihadapi. Kalau salah satu dari kalian merasa kelelahan atau butuh bantuan, utarakan dengan jujur. Jangan menunggu sampai ada yang merasa kewalahan baru bicara, ya!

3. Luangkan Waktu Berkualitas Bersama

Banyak pasangan yang merasa kehilangan kedekatan setelah menikah karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. Padahal, sesibuk apa pun, meluangkan waktu bersama itu penting. Nggak harus selalu liburan atau makan malam mewah, kadang ngobrol santai sebelum tidur atau masak bareng juga sudah cukup untuk menjaga kedekatan.

4. Jangan Bawa Stres Kerjaan ke Rumah

Sering kali kita tanpa sadar membawa energi negatif dari pekerjaan ke rumah. Kalau hari ini di kantor lagi banyak tekanan, coba deh kasih waktu sejenak buat diri sendiri sebelum ketemu pasangan. Bisa dengan jalan kaki sebentar, mendengarkan musik, atau sekadar tarik napas dalam-dalam. Rumah harus jadi tempat yang nyaman, bukan malah jadi ‘kantor kedua’ yang penuh tekanan.

5. Saling Dukung dan Menghargai

Karir dan rumah tangga itu sama pentingnya. Jangan sampai salah satu merasa diabaikan. Saling mendukung dalam setiap perjalanan karir masing-masing adalah kunci. Kalau pasangan punya proyek besar atau sedang mengejar target di kantor, berikan dukungan, baik lewat kata-kata semangat atau bantuan kecil di rumah agar dia bisa fokus.

6. Buat Rutinitas yang Seimbang

Menjadwalkan pekerjaan dan waktu bersama bisa membantu menjaga keseimbangan. Misalnya, tentukan jam kerja dan jam santai di rumah. Kalau memungkinkan, hindari mengecek email kantor saat quality time dengan pasangan. Dengan begitu, hubungan tetap terjaga tanpa merasa ‘dikejar-kejar’ pekerjaan terus-menerus.

7. Jangan Lupakan Me Time

Menjaga keseimbangan bukan berarti harus selalu bersama 24/7. Me time juga penting! Entah itu dengan membaca buku, olahraga, atau sekadar ngopi sendiri, waktu untuk diri sendiri bisa membantu menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan dalam pernikahan.

Kesimpulan

Menyeimbangkan karir dan kehidupan rumah tangga memang butuh usaha, tapi bukan berarti mustahil. Dengan komunikasi yang baik, pembagian peran yang adil, dan waktu berkualitas bersama, semua bisa berjalan lebih harmonis. Yang penting, selalu ingat bahwa pernikahan adalah perjalanan bersama, bukan perlombaan siapa yang paling sibuk. πŸ˜‰